412 words
2 minutes
Rupiah Melemah: Bukan 1998, Tapi Risiko Tetap Nyata

Pelemahan rupiah belakangan ini kembali memunculkan kekhawatiran lama. Namun, seperti ditegaskan Muhamad Chatib Basri dalam artikelnya di Kompas, kondisi hari ini tidak sama dengan krisis 1998. Fondasi ekonomi Indonesia sudah jauh lebih kuat, baik dari sisi perbankan, kebijakan moneter, maupun instrumen pengelolaan risiko. oaicite:0

Meski begitu, risiko tetap ada dan tidak boleh diremehkan.

Bukan 1998, Tapi Ada Titik Rawan#

Menurut Basri, yang perlu diwaspadai bukan bayangan krisis 1998, melainkan erosi kredibilitas fiskal yang dampaknya langsung tercermin pada nilai tukar. oaicite:1

Indikasinya terlihat dari kenaikan credit default swap (CDS), yang mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Ketika risiko naik, investor menuntut imbal hasil lebih tinggi atau bahkan keluar dari pasar, sehingga menekan rupiah.

Tekanan Eksternal dan Domestik#

Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah.

Dari eksternal, konflik geopolitik global mendorong kenaikan harga minyak dan mempersempit ruang kebijakan, termasuk bagi Bank Indonesia. Suku bunga global yang tinggi juga membuat aliran modal cenderung keluar dari negara berkembang.

Dari domestik, faktor fiskal menjadi sorotan utama. Basri mencatat bahwa kenaikan CDS Indonesia bahkan sudah terjadi sebelum konflik global memanas, dipicu oleh kekhawatiran terhadap defisit anggaran dan arah kebijakan fiskal. oaicite:2

Dampak ke Masyarakat#

Depresiasi rupiah tidak serta-merta memicu krisis, tetapi tetap berdampak nyata.

Kenaikan harga barang impor, terutama pangan, akan menekan daya beli masyarakat. Dampak ini paling terasa bagi kelompok menengah ke bawah, karena porsi pengeluaran untuk kebutuhan dasar lebih besar. oaicite:3

Sementara itu, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi secara agregat relatif terbatas dan cenderung jangka pendek, karena ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi domestik.

Kenapa Tidak Akan Jadi 1998#

Ada perbedaan mendasar dengan kondisi sebelum krisis 1998:

  • Nilai tukar kini lebih fleksibel, tidak dipertahankan secara artifisial
  • Pelaku ekonomi lebih terbiasa melakukan lindung nilai
  • Risiko mismatch valuta dan jatuh tempo jauh lebih terkendali

Akibatnya, depresiasi terjadi lebih bertahap, bukan lonjakan ekstrem yang merusak sistem keuangan sekaligus. oaicite:4

Apa yang Perlu Dilakukan#

Basri menekankan pentingnya menjaga disiplin kebijakan, terutama di sisi fiskal. Pemerintah perlu:

  • menjaga defisit tetap terkendali
  • memastikan belanja negara lebih tepat sasaran
  • memperkuat perlindungan sosial bagi kelompok rentan

Ia juga menyinggung perlunya evaluasi program agar lebih terarah, misalnya bantuan yang benar-benar ditujukan pada kelompok yang membutuhkan. oaicite:5

Intinya#

Kondisi rupiah saat ini bukan krisis seperti 1998, dan kemungkinan menuju ke sana juga kecil. Namun, stabilitas sangat bergantung pada kepercayaan pasar.

Risiko terbesar bukan pada angka semata, melainkan pada kredibilitas kebijakan. Jika kepercayaan ini melemah, tekanan terhadap rupiah bisa membesar.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan hanya soal ekonomi makro, tetapi juga soal siapa yang paling terdampak. Dan seperti diingatkan, kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah mereka yang daya belinya paling rentan.

Sumber#

Basri, Muhamad Chatib. Rupiah, Risiko, dan Ingatan 1998. Kompas, 3 Mei 2026. https://www.kompas.id/artikel/rupiah-resiko-dan-ingatan-1998?open_from=Tagar_Page

Rupiah Melemah: Bukan 1998, Tapi Risiko Tetap Nyata
https://frqblog.vercel.app/posts/ngeracau-may5/
Author
frqblog
Published at
2026-05-05
License
CC BY-NC-SA 4.0